Tuesday, July 21, 2009

SAFETY TIP # 2 - ASK EARLY IF YOU HAVE A QUESTION

SAFETY TIP # 2 - ASK EARLY IF YOU HAVE A QUESTION
ABOUT A TASK TO BE DONE LATER.
Why? Mistakes often occur because care team members lack clarity about
exactly what they are to do, or when they are to do it. Research has shown that
asking a question early (rather than asking the same question later) not only
reduces the risk of failure or injury, but also saves time and reduces the stress
that comes with ambiguity and uncertainty.
An example: An intern joined rounds late. At the end of rounds, the senior house
officer noted that it was time to remove the first of the two chest tubes in an
elderly patient. While everyone present nodded in agreement, the task was given
to the late intern, who did not know which tube was placed first and did not feel
comfortable asking after having nodded knowingly moments before. He
incorrectly assumed the patient was the one that he participated in rounds on.
Later, the intern went to carry out the task, and incorrectly removed what looked
like the older tube. Had he asked questions when first assigned the task, he
would not have removed the wrong chest tube from the wrong patient. This
caused the patient respiratory distress requiring placement of another chest tube.
Reference: Sexton, J.B. (2004). Golden Rules of Group Interaction in High Risk
Environments: Evidence based suggestions for improving performance. Book.
Gottlieb Daimler and Karl Benz Foundation and Swiss Re Centre for Global
Dialogue. Ladenburg & Rueschlikon.

“Leaders Toward Safety ”

SAFETY TIP # 1 - EFFECTIVE LEADERS DELEGATE SO THAT
THEY CAN REGULATE. DURING TIMES OF HEAVY WORKLOAD,
LEADERS SHOULD MANAGE THE SITUATION WHILE OTHERS
MANAGE THE ACTUAL TASKS.
Why? Research has shown that such a strategy reduces multitasking and
improves decision-making and vigilance. Leaders who fail to delegate during high
workload risk increased errors and accidents due to the burden of trying to
simultaneously managing the tasks, the team, and the environment. Evidence of
this phenomenon comes from a handy statistic in commercial aviation. The
National Transportation Safety Board found a disproportionately high percentage
of aviation accidents (over 80%) occur when the captain is the pilot doing the
actual flying and the first officer is the pilot "not flying." These captains are
overloaded as they try to accomplish flight tasks and command duties at the
same time.
An example: in our own industry involved a charge nurse failing to delegate. A
patient with a history of an elevated heart rate spontaneously went into a fast
irregular rhythm. The bedside nurse called out for help when the rhythm caused
a significant drop in blood pressure. The charge nurse, three additional bedside
nurses, and the medical resident arrived at the bedside. The resident ordered an
intravenous medication, which the charge nurse went to obtain and then
administered. Rather than delegate the task to the other staff members, which
would allow her to better supervise and document the efforts of the staff, the
charge nurse sent the other three nurses away stating she could handle the
situation. The patient did not respond to the medication and the physician
ordered that the patient be cardioverted (an electrical shock to trigger a normal
rhythm) and that a continuous medication be given intravenously. The charge
nurse left to mix the medication and get the defibrillator machine. The charge
nurse returned to administer the electric shock with the physician present. The
patient continued to deteriorate and needed additional treatment that was
delayed because the charge nurse did not delegate tasks to the other team
members. The patient suffered mild heart ischemia, and a low oxygen level that
required mechanical ventilation to assist breathing, and resulted in a prolonged
ICU stay.

AWARENESS UNTUK KONTRAKTOR

SAFETY & ENVIRONMENT AWARENESS UNTUK KONTRAKTOR

1. TUJUAN
a. Memberikan penjelasan kepada kontraktor terkait dengan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan ( kebijakan K3L, prosedur, peraturan – peraturan dll ) di PT XXX INDONESIA.
b. Menjamin keselamatan kerja para karyawan dan kontraktor pada saat melakukan pekerjaan di area perusahaan.

2. KEBIJAKAN K3L PT XXX INDONESIA.
1. Melakukan perbaikan secara terus menerus terhadap pengelolaan Lingkungan, Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3L) untuk mencapai kecelakaan nihil dan menghilangkan potensi bahaya.
2. Memenuhi hukum dan peraturan K3L yang berlaku serta peraturan lain yang berkaitan dengan K3L.
3. Meningkatkan kesadaran terhadap Keselamatan & Kesehatan Kerja dan Lingkungan melalui pendidikan dan pelatihan kepada seluruh karyawan.

3. TATA CARA BEKERJA AMAN
a. Sebelum bekerja di area perusahaan, kontraktor harus mengisi form ijin kerja kontraktor. ( disetujui oleh Manager seksi, dan SHE COM )
b. Pimpinan kontraktor harus memastikan bahwa peralatan K3L yang dipersyaratkan dalam bekerja telah dipenuhi dan digunakan oleh karyawannya.( Alat pelindung diri, Alat pemadam kebakaran, dll )
c. Kontraktor harus mematuhi peraturan yang berlaku di PT XXX INDONESIA .
d. SHE COM / Security sewaktu-waktu akan memeriksa bahwa persyaratan K3L telah dipenuhi.
e. Apabila kontraktor melakukan pekerjaan yang termasuk dalam pekerjaan khusus maka kontraktor harus mengikuti ketentuan yang ada dalam prosedur ijin kerja khusus.
f. Apabila di dalam pekerjaan tersebut mengandung potensi bahaya untuk terjadinya pencemaran lingkungan maka kontraktor harus mengikuti ketentuan yang ada dalam prosedur ijin kerja khusus.
g. Apabila di dalam pekerjaannya kontraktor menggunakan bahan kimia berbahaya dan beracun maka perlu melakukan komukasi tentang cara penanganan dan pembuangannya.
h. Setelah selesai bekerja kontraktor harus membersihkan tempat kerja.
4. APD ( ALAT PELINDUNG DIRI )
NO APD FUNGSI
1 Helmet Melindungi kepala dari benda keras, saat terjatuh, kejatuhan benda.
2 Topi Sebagai identitas untuk membedakan antara karyawan, kontraktor, dan lain-lain.
3 Sabuk Pengaman Mencegah jatuh dari atas pada saat bekerja di temapat yang tinggi.
4 Kaca mata safety Melindungi mata dari benda kecil / serbuk yang mengenai mata.
5 Kaca mata las Melindungi mata dari percikan api dan sinar las.
6 Kedok las Melindungi muka dan mata dari percikan api dan sinar las.
7 Masker kain Melindungi alat pernapasan dari masuknya debu.
8 Masker Gas Melindungi alat pernapasan dari masuknya zat berbahaya ( gas, bahan kimia dan bau yang menyengat )
9 Sarung tangan katun Untuk menangani benda yang panas dan tajam
10 Sarung tangan kulit Untuk menangani benda yang lebih panas sehingga tidak bisa menggunakan sarung tangan katun.
11 Sepatu safety Melindungi kaki dari kejatuhan benda berat, menginjak benda tajam.


5. KETENTUAN PENGGUNAAN API DI DALAM PERUSAHAAN
a. Pada dasarnya dilarang menggunakan api didalam perusahaan, kecuali yang berkaitan langsung dengan proses produksi dan pembuatan / perbaikan alat yang rutin. Untuk mencegah terjadinya kebakaran peusahaan, menyediakan alat – alat pemadam seperti Alat Pemadam Api Ringan ( Dry chemical, CO2 ), Hidran, pasir dll ditempat yang berpotensi terjadi kerbakaran.
b. Tempat-tempat yang diperbolehkan menggunakan api :
- Radiator soldering
- A/C (Car, bus) Aluminium Brazing
- Parts ( Press Welding )
- Pengelasan di machinery dan carpenter
c. Pekerjaan yang sama sekali tidak boleh dilakukan di lingkungan perusahaan.
- Membakar dokumen, seharusnya dokumen di potong-potong kemudian dibawa keluar untuk dibakar. Pada saat membakar diawasi oleh PIC dokumen.
- Pembersihan hunger radiator, A/C dengan cara dibakar, seharusnya dibersihkan dengan palu, bila dibersihkan dengan cara dibakar harus dibawa keluar ( subcont )
- Membakar sampah
- Mengelas disekitar painting booth, seharusnya jauh dari painting booth ( lebih dari 10 M )
- Memotong/mengelas cerobong painting booth
- Mengelas di dalam gudang.
- Mengelas di dekat LPG Storage
d. Pekerjaan yang boleh dilakukan, tapi harus mendapatkan ijin dari safety committee
- Pekerjaan pengelasan yang tidak rutin, seperti memperbaiki bangunan, alat dsb. Pada pekerjaan tersebut barang-barang yang mudah terbakar harus dijauhkan.

Monday, July 20, 2009

SISTEM KESELAMATAN PRODUKSI

SISTEM KESELAMATAN PRODUKSI


Sistem keselamatan/keamanan produksi didalam industri minyak dan gas bumi adalah sangat memegang peranan penting dimana menyangkut aspek peralatan dan manusia, telah diterangkan pada bahagian sebelumnya faktor lain yang sangat terkait misalnya kehilangan jam kerja ataupun kehilangan aset perusahaan, oleh karena itu disini akan dibahas secara simpel/dasar masalah-masalah tersebut diatas.

Di dalam industri minyak dan gas bumi atau dikenal dengan hydrokarbon, untuk proses produksi dibutuhkan alat-alat produksi misalnya seperti :

• Wellhead/ X-Mas Tree (Kepala Sumur).
• Test Separator (Bejana Pemisah).
• Pipeline (Pipa penyalur).
• Well Subsurface Equipment (Peralatan Bawah Sumur).

Peralatan fasilitas produksi seperti yang tersebut diatas berguna sebagai alat transportasi minyak dari reservoir ke fasilitas permukaan, dipisahkan dengan separator dan dibersihkan lalu diukur dan dikirim melalui jalur pipa ke tempat lain.

1. Wellhead dan X-Mas Tree
Wellhead / X-Mas Tree (Kepala Sumur) adalah suatu peralatan yang berfungsi untuk:
• Memisahkan/menahan rangkaian casing & tubing.
• Memisahkan tekanan annulus yang satu dengan yang lain.
• Memisahkan tekanan annulus dengan tubing.
• Tempat duduk X-mas tree, yang terdiri dari rangkaian beberapa valve seperti SV 1(Safety Valve 1), SV2, MV (Master Valve) dan Top Valve.
Mengatur/mengontrol aliran pada waktu aliran fluida produksi dan tekanan dari dalam reservoir.

Biasanya di kepala sumur ini dipasang alat-alat keselamatan untuk menjamin dalam pengoperasiannya, seperti alat-alat monitor tekanan (pressure gauge), ini perlu dikenal sebelum membuka ataupun menutup valve-valve tersebut (lihat gambar-gambar wellhead & X-Mas Tree).
Seorang operator produksi biasanya bekerja di daerah kepala sumur senantiasa memperhatikan prosedur-prosedur kerja, sebelum dan sesudah menutup salah satu valvenya. Yang perlu diperhatikan didalam bekerja di lapangan minyak adalah bekerja dengan Tekanan dan Temperatur Tinggi.
Sehingga perlu diperhatikan setiap aktifitas yang berkaitan dengan alat-alat produksi dan dapat membahayakan keselamatan pekerja itu sendiri. Perhatikan instruksi ataupun prosedur kerja yang telah dibuat oleh pegawai yang berwenang agar senantiasa mematuhinya, apabila ingin melakukan diluar instruksi ataupun prosedur mintalah ijin atau petunjuk dari pegawai yang berwenang. Jangan sekali-sekali membuka & menutup valve di kepala sumur tanpa prosedur kerja ataupun ijin dari atasan yang berwenang.

2. Test Separator (Bejana Pemisah Fluida)
Adalah suatu suatu bejana yang berfungsi untuk memisahkan gas, fluida minyak, kondesat dan air.

Ada 2 macam separator adalah sebagai berikut :
• 2 phase separator.
2 phase separator berguna untuk memisahkan semua cairan dari gas.
• 3 phase separator.
3 phase separator berguna untuk memisahkan gas, air dan minyak.

Ada 3 jenis separator adalah sebagai berikut (lihat gambar separator):
• Separator Horizontal.
 Biasanya digunakan untuk memisahkan minyak dengan gas yang mempunyai GOR tinggi (Gas Oil Ratio/Perbandingan Gas dan Minyak).
 Digunakan untuk kapasitas pemisahan yang besar.
 Mudah pemasangannya.
 Baik untuk menerima aliran yang stabil.
• Separator Vertikal.
 Biasanya digunakan untuk pemisahan minyak dengan GOR yang rendah.
 Baik untuk menerima aliran yang relatif tidak stabil.
 Mudah dibersihkan.
 Pemasangannya tidak memerlukan tempat yang luas
• Separator Spherical ( Bulat).
 Intermediate dari kedua diatas
 Lebih padu dari tipe yang lain.
 Kapasitas surge cairan dan ruang pemisah yang terbatas.

Dengan mengenal peralatan-peralatan untuk menangani proses hydrokarbon di sebuah proses industri perminyakan sangat besar pengaruhnya seperti :
• Perbedaan atau persamaannya dalam pegunaan alat alat tersebut mengenal fungsi dari Main separator, test separator dan auxillary separator dsb
• Perbedaan nama-nama dari separator adalah sangat memegang peranan penting pada saat bekerja dengan aman/safe di proses fasilitas produksi hydrokarbon baik untuk lapangan gas atau minyak.

Bekerja di bejana yang mempunyai tekanan & temperatur tinggi, harus tetap mematuhi aspek keselamatan didalam pengoperasiannya. Tekanan separator biasanya tinggi dan dilengkapi oleh suatu valve yang dikenal Pressure Safety Valve (PSV) yang fungsinya melepaskan tekanan yang berlebihan yang telah diset apabila terjadi di separator tersebut.

Telah diterangkan di atas bahwa mengenal dan mengetahui secara pasti fungsi dan kegunaannya dari peralatan produksi adalah hal penting dalam pencegahan kecelakaan, apabila seseorang diberi tugas untuk memonitor atau mengoperasikan peralatan separator, yang perlu diperhatikan adalah
• Tekanan di dalam alat tersebut,
• Maximum tekanan,
• Temperatur kerja
yang diijinkan sesuai standard desain peralatan tersebut.

3. Pipeline
Pipeline adalah suatu alat transportasi/alat penyalur untuk mengirim fluida atau gas dari satu tempat ketempat lainnya.
• Pipa lepas-pantai (Offshore pipelines) :
Berfungsi untuk mentransfer kandungan hydrokarbon (Gas alam, Minyak bumi, kondesat dan air) dari satu proses anjungan minyak ke anjungan minyak lainnya atau sebaliknya ke tempat penyimpanan baik di lepas pantai ataupun didarat.
• Pipa penyalur di darat (Onshore pipelines) :
Sama fungsinya adalah penyalurkan kandungan hydrokarbon (Gas alam, Minyak bumi, kondesat dan air) dari satu lapangan minyak ketempat penyimpanan atau dari satu daerah kedaerah lainnya.
Pipa-pipa ini diklasifikasi berdasarkan dari arah mana aliran fluida mengalir di fasilitas produksi tersebut, sehingga dapat dibedakan sbb:
1. Incoming line (aliran masuk).
2. Outgoing line (aliran keluar).
3. Bidirectional (dapat digunakan untuk aliran masuk atau keluar).

4. Fasilitas Pigging
Dalam operasi perminyakan, pigging dilakukan secara berkala untuk membersihkan internal pipe dari kotoran kotoran (endapan-endapan lumpur) akibat proses industri ataupun sisa pengeboran minyak ataupun air yang terjebak akibat kontur dari tanah yang dapat mengakibatkan korosi, yang mengakibatkan bocornya pipa minyak ataupun gas yang dapat merugikan perusahaan dan mengancam keselamatan orang. Oleh karena itu perlu pipeline harus dibersihkan dengan pigging sehingga setiap ujung-ujung pipelines biasanya ada alat fasilitas yang disebut pig launcher (peluncur pig) dan pig receiver (penerima pig).

Di dalam pengoperasian pigging, perlu mengenal alat-alat monitor untuk keselamatan yang terdapat di peluncur dan penerima pig dalam penggunaannya perlu diperhatikan tekanan & temperatur kerja sebelum ataupun sesudah meluncurkan pig.

Yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan pigging adalah sebagai berikut :
1. Gambar skematik dari masing-masing pig launcher (peluncur) dan pig receiver (penerima).
2. Prosedur kerja pada saat akan memasukan pig (baik pig biasa ataupun pig khusus), bagian-bagian (valve/line) mana yang akan dibuka dan ditutup.
3. Ijin kerja yang harus disetujui dan diketahui oleh pertugas setempat yang berwenang baik pada saat peluncuran maupun penerimaan.
4. Tempat kerja yang memadai untuk melakukan pekerjaan.
5. Usahakan melakukan pigging pada waktu siang hari.
6. Adakan safety briefing/talk sebelum melakukan pekerjaan dan dihadiri oleh semua pihak terkait dan diketahui oleh petugas setempat yang berwenang dan bertanggung jawab ditempat tersebut.
7. Lakukan pemeriksaan ulang sebelum melakukan pigging kondisi alat-alat monitor tekanan dan temperatur, pig signal serta jenis pintu-pintu penutup-peluncur dan penerima dapt bekerja dengan baik.
8. Mengetahui media (gas/minyak/kondesat/air) di pipeline tersebut serta kandungan-kandungannya seperti H2S, CO2 dll.
9. Gunakan radio komunikasi yang akurat antara tempat peluncur maupun penerima.
10. Mempunyai hirarki satu komando yang bertanggung jawab.

Pekerjaan pigging dilakukan termasuk dalam tugas pemeliharaan dan mempunyai jadwal tertentu menurut kebutuhannya tergantung terhadap media terkandung.

5. Perlengkapan Keselamatan pada Proses Produksi
Beberapa perlengkapan keselamatan yang mendasar pada proses produksi minyak akan dibicarakan berikut ini.

a. Subsurface Equipment
Pemakaian dari Subsurface Equipment adalah suatu peralatan yang dipasang ditubing dibawah permukaan tanah untuk pencegahan aliran yang bertekanan abnormal apabila terjadi keadaan yang tidak dapat dikontrol baik disurface atau di subsurface sehingga dapat menyebabkan Blow-Out atau semburan liar di well head (kepala sumur).pada lapangan minyak ataupun gas yang mempunyai tekanan reservoir yang tinggi.(lihat gambar 3).

Peralatan ini biasa disebut sebagai Sub-Surface Safety Valves (SSSVs) dan dipasang di dalam sumur minyak/gas didalam tubing produksi yang dalamnya bervariasi tergantung dari karakteristiknya reservoir.

SSSVs merupakan suatu alat pengaman yang sangat penting didalam suimur minyak dan gas bumi dan ini dipasang atas persyaratan oleh API RP14A, allat ini ditest dalam peride tertentu sesuai kebijakan perusahaan masing-masing.

Ada 2 jenis SSSV yang dikenal yaitu :

1. Jenis flapper valves (lihat gambar 4).
2. Jenis Ball valves (lihat gambar 5).

Dari masing-masing jenis tersebut diatas mempunyai suatu keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri. Alat SSSV ini dipakai didalam sumur minyak atau gas bumi adalah sebagai alat pengaman demi keselamatan kerja baik untuk orang atau aset perusahaan dan biasanya peggunaan ini didalam standard API RP-14A.

Untuk SSSV biasanya sudah diset oleh perusahaan jasa perminyakan dan kontraktor untuk masalah ini biasanya sudah mengetahui cara-cara menanganinya.

b. Emergency Shutdown System (ESD)

Kegunaan atau pemakaiannya :
Sistim ESD selalu dipasang dan berguna apabila proses fasilitas produksi baik proses didarat ataupun anjungan minyak dilepas pantai mengalami situasi darurat
ESD sistem adalah sebuah sistem untuk mematikan sistem produksi hydrokarbon dengan menarik tombol, dengan ditariknya tombol ESD bekerja secara tekanan angin (pneumatic) dan menutup semua valve yang dioperasikan dan mematikan seluruh sistem produksi baik itu anjungan lepas pantai ataupun proses fasilitas produksi didarat termasuk pemutusan listrik ke Reda Pump untuk beberapa field yang menggunakan sumersible pump, ESD sistem harus dapat dioperasikan setiap saat baik dalam kondisi pengeboran/ service ulang sumur atau dalam kondisi normal produksi.

Biasanya ESD dipasang di lokasi yang strategis seperti :
1. Landing Boat.
2. Helipad.
3. Proses fasilitis.
4. Dekat dengan driller box pada waktu pengerjaan sumur minyak/gas.
5. Setiap dek di tangga jalan keluar.
6. Dekat jalan keluar dari ruang tempat tinggal (living quarter).
7. Lokasi lain yang dirasakan perlu dipasang ESD.

Setelah mengenal bagian pokok dalam peralatan produksi dan bagaimana cara kerjanya, hal pokok yang perlu diperhatikan adalah peralatan tersebut harus memperhatikan jadwal inspeksi dan pemeliharaan tahunan agar senantisa dapat bekerja setiap saat apabila terjadi keadaan darurat (emergency situation) yang tiba-tiba. Sistem safety produiksi dirancang dan ditempatkan pada bagian-bagian yang telah diperhitungkan dan kemungkinan terjadinya tekanan & temperatur yang berlebihan dan ini harus tetap diperhatikan oleh seluruh pekerja apabila bekerja dilapangan minyak & gas bumi.

Di dalam pemakaian alat safety produksi ada juga yang menggunakan alarm sebagai signal atau tanda-tanda apabila terjadi kondisi tidak normal, baik itu overpressure atau underpressure.
Peralatan sistem safety produksi dirancang untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang dapat merugikan baik perusahaan maupun manusia.
Dan perlu mengenal safety faktor yang sudah ditentukan didalam buku-buku referensi seperti API RP-14A,B,C,D, ANSI, NACE, AWS dsb.

Sebagai seorang pekerja dibidang perminyakan perlu mengutamakan faktor-faktor keselamatan kerja dan selalu sigap dan waspada akan kondisi kerja kita dan apabila menemukan kondisi abnormal dilingkungan kerjanya agar segera menghubungi petugas setempat yang berwenang untuk mengambil tindakan pencegahan sedini mungkin agar tidak merugikan pekerja dan perusahaan tersebut.

Mintalah petunjuk kerja kepada petugas setempat yang berwenang, apabila bekerja ditempat yang belum terbiasa, jangan ambil tindakan sendiri yang belum dimengerti benar.

Gunakan alat keselamatan diri atau pelindung perorangan apabila bekerja disetiap tempat di fasilitas produksi

Kegunaan kursus dasar ini sangat penting untuk setiap pekerja dilapangan minyak dan gas bumi serta mempunyai dasar pengertian yang sama terhadap alat-alat produksi dan bagian-bagiannya yang terlibat dalam aktivitasnya dan ini perlu dilihat dari segi keselamatan kerja yang mempengaruhi reputasi dimana ia ditempatkan bekerja. Kursus ini dilihat dari segi Keselamtan kerja dan untuk mengetahui lebih detail mengenai alat-alat produksi akan ada kursus tentang dasar-dasar pengetahuan alat produksi minyak dan gas bumi.